Eksotisme Dibalik Pegunungan Karst Rammang-Rammang

Rammang-Rammang merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan, tepatnya berada di Desa Salenrang, daerah Maros. Kata Rammang sendiri berasal dari bahasa daerah Makassar yang berarti awan. Obyek wisata ini juga termasuk dalam daftar World Herritage yaitu sebagai 3 pegunungan karst terbesar di dunia yang bersanding dengan Tiongkok dan Vietnam. Keren banget kan?? Pasti keren lah….Indonesia gitu loooh!!

PhotoGrid_1455772644214

Bagi yang sudah pernah ke Makassar pasti tidak akan asing mendengar nama daerah ini karena Bandara Internasional Sultan Hasanuddin juga berada di Maros. Bagi kalian yang mungkin transit lama di bandara bisa banget lho untuk menyempatkan berkunjung ke Rammang-Rammang. Apalagi bagi para pecinta fotografi, pasti puas banget bisa jeprat-jepret keindahan panoramanya. Perlu diketahui juga ya, ada banyak spot yang bisa dikunjungi di daerah wisata Rammang-Rammang seperti Taman Hutan Batu Kapur, Telaga Bidadari, Goa Bulu’ Barakka’, Goa Telapak Tangan, Goa Pasaung, dan wisata sungai Pute beserta Kampung Berua.

PhotoGrid_1455772661871

Untuk mencapai obyek wisata yang satu ini sebenarnya sangat mudah dan tidak terlalu jauh. Jika kalian berangkat dari pusat kota Makassar, kalian bisa menempuh waktu 1 jam. Sedangkan jika kalian sedang transit di Bandara, jarak yang bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Saat itu saya dan suami berangkat dari pusat Kota Makassar. Kami berjalan menuju arah jalan poros Maros-Pangkep. Jalan lurus saja sampai ketemu plang bertuliskan Semen Bosowa, setelah itu beloklah ke arah kanan. Lokasi Rammang-Rammang tidak jauh dari jalan poros tersebut. Jika menggunakan kendaraan paling hanya 5 menit saja. Kalau naik angkutan bisa turun di plang tersebut lalu cukup berjalan kaki 10 menit saja untuk menuju dermaga Rammang-Rammang.

Foto sebentar di dermaga sebelum naik perahu

PhotoGrid_1455772765409

Setelah kami mengeksplor area ini, ternyata ada 2 spot dermaga. Dermaga 1 berada tidak jauh dari plang Semen Bosowa tadi dan jalannya sudah diaspal karena seperti jalan besar. Sedangkan dermaga 2 berada agak di tengah dimana harus melewati perkampungan penduduk dan ada beberapa bagian jalan yang belum diaspal. Beda dermaga beda pemandangan juga ternyata. Kami dulu berangkat dari dermaga 2 dimana ketika berjalan melewati perkampungan penduduk, kami disuguhi indahnya pemandangan taman bebatuan karst yang menjulang tinggi di hamparan lahan pertanian yang sangat luas. Kami juga sempat mengintip sebentar keberangkatan dari dermaga 1 dan sama indahnya karena kalian bisa menyusuri sungai dengan pemandangan batuan karst sedikit lebih pendek di kanan kirinya.

PhotoGrid_1455772897780

PhotoGrid_1455772884763

PhotoGrid_1455772785222

Akhirnya tibalah kami di dermaga 2 dan kami mencari perahu untuk menyusuri sungai Pute. Setelah kami melakukan tawar menawar, dapetlah harga 200rb dari harga 300rb. Buat kalian yang kesini boleh nawar tapi jangan kebangetan nawarnya ya….hehehehe…karena penghasilan penduduk setempat itu juga bergantung dari para wisatawan yang datang. Perahu kayu dengan mesin sudah siap dan kami pun juga siap menyusuri sungai sambil menikmati pemandangan pegunungan karst di pelupuk mata. It’s so amazing for us!!!

FB_IMG_1442889518476

PhotoGrid_1455772744913

PhotoGrid_1455772700491

Perahu pun melaju dengan sangat santai sambil kami menikmati suasana menuju Desa Berua. Rasanya sunyi sekali, begitu tenang dan sangat damai, tidak terdengar suara klakson kendaraan seperti di kota. Karena saat itu kami datang sudah agak kesiangan, jadi sungainya lumayan agak surut. Dan karena itulah, perahu kami beberapa kali sering nyangkut di bebatuan. Di tengah-tengah perjalanan menyusuri sungai, kami menemukan spot yang sangat bagus untuk berpose ria. Jepret sana jepret sini penuh kebahagiaan, dan tak terasa sampailah kami di Desa Berua.

PhotoGrid_1455772869162

PhotoGrid_1455772853892

Desa Berua merupakan sebuah desa wisata yang dikelilingi oleh pegunungan karst. Di desa tersebut dihuni tidak lebih dari 15 kepala keluarga. Untuk masuk ke area ini, kami dikenakan tarif 2500/orang. Setelah turun dari perahu, kami menuju ke sebuah warung kelontong yang juga menjual es kelapa muda untuk beristirahat sejenak di tengah-tengah lahan sawah yang sangat luas. Sayangnya saat itu masih musim kemarau panjang, jadi sawahnya gersang dan pegunungan karstnya pun agak gundul. Kalau kalian datang tidak disaat kemarau panjang, kalian akan lebih terpukau melihat pemandangan yang sangat segar di mata. Di desa ini juga disewakan beberapa homestay bagi pengunjung yang ingin menginap atau sekedar menikmati kesunyian dan indahnya kunang-kunang di malam hari. Homestay sederhana berbentuk rumah panggung yang disewakan sekitar 50.000/malam dengan fasilitas tanpa AC karena hawanya sudah dingin disana dan sarapan pagi. Menurut penduduk setempat sih, katanya kebanyakan yang suka menginap itu wisatawan asing.

PhotoGrid_1455772808887

PhotoGrid_1455772839512

Dahaga pun telah hilang dan kami melanjutkan perjalanan untuk mengelilingi setiap sudut Desa Berua. Berjalan di tengah-tengah sawah yang gersang sampai ke ujung menuju sebuah Goa. Goanya sih tidak terlalu dalam jadi kami masuk sebentar. Ada juga Goa Telapak Tangan dimana di dalam gua tersebut ada bekas telapak tangan manusia purba, tapi karena kami malas jalan jauh dari gua yang kami kunjungi jadi kaki pun enggan untuk melangkah lagi. Setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke perahu dan pulang menuju ke dermaga. Pada saat perjalanan pulang, pengemudi perahu menawarkan untuk mengantarkan ke Telaga Bidadari yang tidak kalah indahnya juga. Tapi karena sudah agak sore dan tracking menuju telaga tersebut sangat amat lumayan melelahkan, jadi kami memutuskan untuk pulang saja. Sore menuju senja mengiringi langkah kami menuju Kota Daeng dengan membawa kepuasan batin akan indahnya karya ciptaan Allah SWT.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar